Selasa, 06 Januari 2009

MENGEMBANGKAN DAN MENERAPKAN KECERDASAN LOGIS MATEMATIKA

BAB I

PENDAHULUAN

Manusia diciptakan unik. Tidak seorang pun manusia di dunia ini yang diciptakan sama, meski kembar sekalipun. Inilah yang sejak lama dalam ilmu pendidikan dikenal dengan konsep perbedaan individual . Oleh karena itu, sistem klasikal sebenarnya tidak sesuai dengan konsep perbedaan individual, karena sistem klasikal menganggap semua siswa yang ada di kelas itu dalam banyak aspek dipandang homogen.

Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan penggunaan metode ceramah dalam proses belajar mengajar. Dengan metode ceramah, materi yang diajarkan sama, prasyarat kemampuan yang dimiliki siswa dianggap sama, tugas-tugas yang diberikan kepada siswa juga sama, dan media dan alat peraga yang digunakan juga sama. Akhirnya, hasil akhir pengetahuan, sikap, dan keterampilan atau yang disebut sebagai tujuan instruksional yang diharapkan juga sama. Bahkan tes hasil belajar yang digunakan untuk mengukur kompetensi siswa juga sama. Itulah karakteristik sistem klasikal dalam proses pembelajaran.

Pelaksanaan sistem itulah yang kemudian memperoleh kritik dari banyak pakar yang berpihak kepada sistem pendidikan individual. Salah satunya adalah Howard Gardner, seorang professor ilmu syaraf (neurology) dari Universitas Harvard pada tahun 1984 (Suparlan, 2004: 198). Kontribusi Gardner yang sangat besar dalam ilmu pendidikan dan ilmu pengetahuan pada umumnya adalah teori tentang kecerdasan ganda, sebagaimana tertuang dalam bukunya bertajuk Frame of Mind: The Theory of Multiple Intelligence yang menyebutkan delapan tipe kecerdasan manusia, yakni:

  1. Linguistic intelligence atau kecerdasan linguistik (bahasa).
  2. Musical intelligence atau kecerdasan musikal
  3. Logical-mathematical intelligence atau kecerdasan logical-matematikal
  4. Visual/spatial intelligence atau kecerdasan visual/spasial
  5. Body/kinesthetic intelligence atau kecerdasan ragawi/kinestetis
  6. Itrapersonal intelligence atau kecerdasan intrapersonal
  7. Interpersonal intelligence atau kecerdasan interpersonal.
  8. Nature intelligence atau kecerdasan naturalis

BAB II

Bagaimana Berpikir Logis Dalam Matematika

Mengenal kecerdasan logis matematik.

Sesungguhnya setiap anak dilahirkan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk menjadi cerdas. Howard Gardner dalam bukunya Multiple Intelligences, menyatakan terdapat delapan kecerdasan pada manusia yaitu: kecerdasan linguistik/verbal/bahasa, kecerdasan matematis logis, kecerdasan visual/ruang/spasial, kecerdasan musikal/ritmis, kecerdasan kinestetik jasmani, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang dengan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematik dan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

Masih menurut Gardner, ciri anak cerdas matematik logis pada usia balita, anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut, mengamati benda-benda yang unik baginya, hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba. Seperti bagaimana jika kakiku masuk kedalam ember penuh berisi air atau penasaran menyusun puzzle. Mereka juga sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. Selain itu anak juga suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung.

Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? Kita bisa mengenalkan pertama kali pemahaman konsep matematika sejak usia dini dari lingkungan sekitar kita dan pengalaman sehari-hari anak serta memberikan stimulasi yang mendukung. Tentu saja hal ini dilakukan tanpa paksaan dan tekanan, dan melalui permainan-permainan. Dalam pendidikan anak, peran orangtua tak tergantikan dan rumah merupakan basis utama pendidikan anak. Banyak permainan eksplorasi yang bisa mengasah kemampuan logika matematika anak, namun tentu hal ini harus disesuaikan dengan usia anak. Saat anak balita bermain pasir, anak sesungguhnya sedang menghidupkan otot tangannya yang melatih motorik halusnya sehingga kelak anak mampu memegang pensil, menggambar dan lain-lain. Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung dan juga bermanfaat melatih kemampuan manipulasi motorik halus terutama melatih kekuatan jari tangan yang di kemudian hari bermanfaat untuk persiapan menulis. Selama bermain anak dituntut untuk fokus mengikuti alur permainanyang pada gilirannya akan melatih konsentrasi dan ketekunan anak yang dibutuhkan saat anak mengikuti pelajaran disekolah.

Mengapa stimulasi untuk kecerdasan anak banyak melalui permainan-permainan dan kegiatan bermain yang menyenangkan? Karena dengan bermain akan membuat anak dapat mengekspresikan gagasan dan perasaan serta membuat anak menjadi lebih kreatif. Dengan bermain juga akan melatih kognisi atau kemampuan belajar anak berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya. Saat memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan dalam memecahkan masalah (problem solving). Misalnya menyusun lego atau bermain pasel. Anak dihadapkan pada masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas. Dan ini juga akan melatih ketika anak kelak di sekolah mendapat pelajaran-pelajaran matematika yang berdasarkan pemecahan masalah (problem solving).

Dalam memperkenalkan angka pada anak jangan hanya sebagai simbol harus dikutsertakan seperti apa dan bagaimana gambaran suatu angka, misalnya Ayu mempunyai dua jeruk, sediakan dua buah jeruk dan berikan dipegang Ayu . Sehingga anak paham tentang konsep angka dan bilangan. Lagu juga bisa menjadi media untuk memperkenalkan berbagai tema tentang angka. Seperti lagu balonku ada lima. Atau kita bisa berkreasi menciptakan lagu sederhana sendiri sambil memperagakan jari kita sebagai alat untuk menghitung, sehingga secara perlahan anak mudah menangkap konsep abstrak dalam bilangan. Setelah anak mengenal bilangan 1 sampai 10, maka bisa dikenalkan bilangan nol. Memberikan pemahaman konsep bilangan nol pada anak usia dini tidaklah mudah. Permainan ini dapat dilakukan dengan menghitung magnet yang ditempelkan di kulkas. Cobalah mengambil satu persatu dan mintalah anak menghitung yang tersisa. Lakukan berulangkali sehingga magnet di kulkas tidak ada lagi yang melekat. Saat itu dapat diunjukkan bahwa yang dilihat pada kulkas adalah 0 (nol) magnet. Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa. Bisa juga membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. Sesekali lakukan juga kegiatan membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu. Memasak sambil melihat resep juga melatih keterampilan membaca dan belajar kosakata. Jangan risaukan keadaan dapur yang akan menjadi kotor dan berantakan dengan tepung dan barang-barang yang bertebaran, karena seperti slogan sebuah iklan bahwa berani kotor itu baik. Anak senang dan tanpa sadar mereka telah belajar banyak hal. Saat dimeja makan pun kita mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekelurga kebagian semua, puding ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila puding sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan. Kita dapat juga memberikan konsep matematika seperti pemahaman kuantitas, seperti berapa jumlah ikan hias di akuarium. Ketika bersantai di depan rumah, anak diajak menghitung berapa banyak motor yang lewat dalam 10 menit. Kenalkan juga konsep perbandingan seperti lebih besar, lebih kecil dan sebagainya, misalnya dengan menanyakan pada anak roti bolu dengan roti donat mana yang ukurannya lebih besar. Saat kita mengenalkan dan menanyakan pada anak bahwa mobil bergerak lebih cepat daripada motor, pohon kelapa lebih tinggi dari pohon jambu, atau tas kakak lebih berat daripada tas adik, sebenarnya hal ini sudah termasuk mengajarkan anak pada konsep kecepatan, panjang dan berat, sehingga fungsi kecerdasan matematikanya menjadi aktif.

Untuk kegiatan di luar rumah, ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya. Kita juga bisa memberikan game-game dalam komputer yang edukatif yang mampu merangsang kecerdasan anak. Tidak hanya bunyi dari angka – angka matematika seperti himpunan, lebih besar, lebih kecil sama dan sebangun, jika dan hanya jika yang menyenangkan, tetapi simbol – simbol abstrak banyak menimbulkan misteri untuk dipecahkan. Potongan – potongan jagung dalam mangkuk harus dihitung dan ditulis dalam angka, dan mainan – mainan dalam kotak mainan harus diketahui secara kuatitatif. Pada waktu siswa berusia 10 tahun, pertanyaan waktu, urutan dan konsep perkalian menguasai atau mempengaruhi daya tariknya. Baginya, setengah jam berarti berapa lama waktu yang digunakan untuk melihat program telepisi atau digunakan untuk pergi ketoko makanan.

Dengan diliputi pemikiran menjumlah, mengalikan, menaksir tentang rentangan waktu yang banyak digunakan dalam aktifitas keseharianya, siswa beranggapan bahwa jika semua kegiatan dapat diikuti dengan baik, maka perlu perhitungan dalam mengatur waktu, paling tidak membagi waktu seefisien mungkin. Indah bagian dari pemikiran logis matematik. Piaget menggambarkan kemajuan dari intelegensi secara logis yang dimulai dengan interaksi seorang anak kecil dengan objek dilingkungannya, penemuan angka, peralihan dari objek yang kongkrit ke simbol yang abstrak, pertimbangan dari pernyataan secara hipotesis dalam suatu hubungan dan implikasinnya. Gardner meragukan bahwa ide – ide perkembangan kognitif piaget dapat diterapkan sama baiknya dengan bidang lain dari kemampuan manusia.

Intelegensi logis matematis melibatkan banyak komponen antara lain: perhitungan secara matematis, berpikir logis, pemecahan masalah, pertimbangan deduktif dan induktif, dan ketajaman pola dan hubungan. Pada intinya kemampuan matematis merupakan kemampuan mengenal dan memecahkan masalah. Sementara intelegensi logis matematis ini menjadi hal yang paling penting bagi masyarakat barat dan sering dihargai sebagai penuntun dan pelajaran bagi sejarah manusia. Gardner menegaskan bahwa intelegensi logis matematis bukanlah intelegensi yang tinggi dibandingkan dengan intelegensi yang lain, dan bukan pula diterima secara universal dengan penghargaan yang paling tinggi. Tetapi terdapat masalah lain yang dipecahkan oleh jenis intelegensi yang lain.

BAB III

KECERDASAN LOGIS MATEMATIKA DALAM PEMBELAJARAN

  1. Mengembangkan Kecerdasan Logis Matematis Dalam Pembelajaran

Bagi usia prasekolah, ketika orangtua sudah mulai merangsang kecerdasan logis matematis dirumah, maka akan lebih mudah bagi anak menerima konsep matematika ketika mulai masuk sekolah. Bagi anak yang telah masuk sekolah, orangtua juga harus terus mendukung dengan memberikan berbagai macam eksplorasi ataupun permainan-permainan yang semakin mengasah kecerdasan matematik logis anak dengan cara yang kreatif dan menyenangkan untuk terus menarik keingintahuan anak. Dengan demikian anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman siswa dan problem solving (pemecahan masalah), kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik sehingga matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

Pembelajaran logis matematis disekolah dapat dikembangkan dengan baik, jika guru memiliki komitmen untuk menerapkan pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kecerdasan logis matematis tersebut. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan membangun diskusi dengan siswa tentang berbagai kesulitan yang mereka hadapi dalam belajar matematika. diskusi tersebut bukan saja dapat memberikan masukan kepada guru tetapi strategi apa yang paling cocok diterapkan dalam pembelajaran, dan juga seorang guru harus dapat melihat berbagai konsep atau topik yang perlu dioptimalkan kepada siswa.

Dalam hal pembelajaran, saatnya menggunakan paradikma pengoptimalan potensi siswa, baik potensi intelektual maupun fisik. Mereka harus menjadi pelajar yang aktif, ditantang untuk menerapkan pengetahuan utama dan pengalaman baru mereka serta makin bertambahnya situasi yang lebih sulit. Berbagai pendekatan pembelajaran harus mengajak siswa dalam proses pembelajaran dari pada sekedar mengirimkan informasi kepada mereka untuk diterimanya.

Kecerdasan logis matematis dapat dikembangkan dalam pembelajaran. Ada 11 hal yang perlu diciptakan dalam pembelajaran yaitu :

a. Menceritakan masalah yang dihadapi sehari – hari.kemudian masalah tersebut dipecahkan dengan bantuan pemikiran matematis.

b. Menerjemahkan masalah dalam matematika. Masalah yang diceritrakan itu biasanya ditulis intinya lalu dimodelkan dalam model matematikaun untuk untukselanjutnya dimasukan kedalam rumus matematika.

c. Menciptakan ketepatan waktuk untuk mecahkan masalah. Dalam hal men yelesaikan masalah tersebut setelah ditransformaskan kedalam rumus matematika, selanjutnya diselesaikan dengan mengetur waktu penyelesaianya. Hal ini dimaksudkan agar proses penyelesaian matematis dapat diketahui efisiensi dan keefektifanya. Beberapa hasil penelitian menunjukan bahwa makin mudah masalah dalam soal matematika, makin cepat penyelesainya atau makin efektif hasilnya.

d. Merencakanan dan melakukan suatu eksperimen untuk lebih meyakinkan cepat, mudahnya atau lambat sukarnya penyelesaiaan maslaha secara matetik, sebaiknya dilakukan penelitian secara sungguh-sungguh dengan menerapkan langkah-langkah kerja atau metode ilmiah.

e. Membuat suatu teknik. Penyelesaian masalah secara matematis diperlukan penerapan atau penemuan teknik dan kerja yang lebih efisian.

f. Membuat diagram venn untuk penyelesaiannya. Diagram benn merupakan salah satu jalan mempolakan masalah untuk menjelaskan membangun pengertian, sehinggah mudah dipecahkan.

g. Membuat silogisme untuk mendemonstrasikan hasil. Pernyataan silogisme merupakan pernyataan besar dapat diterapkan dalam proses berpikir matematis. Dengan menerapkan silogisme berarti kita sedang membuat asumsi-asumsi yang boleh jadi setelah dilakukan penelitian.

h. Membuat analogi untuk menjelaskan.

i. Menggunakan keterampilan dalam berpikir.

j. Merancang suatu pola atau kode atau simbol untuk berpikir sesuatu. Dalam memperlancar proses berpikir, kecerdasan logis matematik dapat menggunakan kode atau simbol terhadap objek yang dipikirkan.

k. Mengkategorikan fakta-fakta yang dipelajari. Fakta yang perlu dikategorisasi sesuai sifat dan jenisnya.

B. Menerapkan Kecerdasan Logis Matematik Dalam Pembelajaran.

Pada dasarnya setiap anak dianugrahi kecerdasan matematika. Pisikolog pendidikan dari fakultas fisikologi UI, Gagan Hartana M.Psi, mengatakan kecerdasan matematika diartikan kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan kebutuhan matematika sebagai selusinya. Misalnya, saat menanam kecambah kacang hijau, dihari pertama anak melihat kecambah tumbuh, anak dengan kecerdasan matematika akan menebak kecambah akan tumbuh lebih tinggi tanpa melihat kelanjutan pertumbuhannya. ” Anak menghadapi problem yang dasar penyelesaiaannya membutuhkan kemampuan matematika dan mampu berpikir abstrak” katanya, menurut Linda dan Brucecampbell, penulis buku teaching and learning thrugha multifle intelligences, inteligensi logika matematika biasanya dikaitkan dengan otak yang melibatkan beberapa komponen, yaitu perhitungan secara matematis berpikir logis, pemecahan masalah, pertimbangan induktif (penjabaran ilmiah dari umum kekhusus) pertimbangan deduktif (penjabaran ilmiah secara khusus ke umum). Dan ketajaman pola-pola serta hubungan-hubungan.

Anak dengan kemampuan ini akan senang berkutak-atik dengan rumus dan pola-pola abstrak. Hal ini ditegaskan Howard Gardner dalam bukunya multifel intelligencec, theory in practice, bahwa ada kaitan logika matematika dengan kecerdasan linguistik. Pada kemampuan matematika anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan linguistik diperlukan untuk menurunkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

Belajar matematika tak harus serius, namun bisa menyisipkannya dalam pengalaman sehari-hari. Berikan pemahaman kosep matematika seperti mengajarkan tentang pemahaman kuantitas. Berikan penguatan jika pemahaman anak benar, sebaliknya luruskan pemahamannya yang menyimpang. Misalnya ketika anak mengatakan kecambah akan tumbuh bertambah besar, artinya anak berpikir tak hanya tambah tinggi namun juga volumenya lebih besar, katakan ” ya kamu benar” sebaliknya jika anak tak mampu menebak anda bisa memancing dengan pertanyaan, apakah jadi lebih besar atau lebih tinggi ?. ini salah satu bentuk orang tua mengevaluasi anak.

Gagan (dalam Uno) mengatakan, kecerdasan matematika bisa mengembangkan kecerdasan lainnya. ”Meski tidak berkaitan secara langsung, namun pungsinya bisa membantu anak menyelesaikan masalah menggunakan dimensi matematik”. Dimana perkembangan kemampuan matematika melahirkan pemikiran sistematik pada anak.

As’ari menganjurkan agar anak diajari konsep perpindahan dan perubahan saat berhitung. Pada soal penjumlahan, beri tempat untuk memprosentasikan benda-benda yang jumlahnya mewakili angka lalu tambahkan pula kalimat pertanyaan sehingga anak tahu bahwa angka tak hanya sebatas simbol saja. Misal, agar anak mahir matematika, tentu harus memahami konsep dan kelancaran prosedur seperti cara menambahkan atau mengurangi, yang memerlukan drill and practice, latihan-latihan yang mengaitkan konsep”.

As’ari mengatakan, syarat anak dikatakan mahir matematika memiliki beberapa potensi dibawah ini :

  • Menguasai konsep matematika
  • Kelancaran prosedur, mengetahui dan memahami soal mana yang memerlukan analisis.
  • Kompeten
  • Penalaran yang logis. Menyangkut kemampuan menjelaskan secara logika, sebab akibatnya serta sistematis.
  • Positive disposition. Sikap bahwa matematika bermamfaat penerapannya dalam kehidupan.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Guru hendak menciptakan suasana belajar yang dapat mengoptimalkan proses pembelajaran agar kecerdasan logis yang dimiliki anak didik berkembang, maka perlu proses belajar aktif seperti berikut ini :

1. Menggunakan bermacam – bermacam strategi tanya jawab

2. Mengajukan masalah terbuka bagi siswa untuk diselesaikan

3. Mengkonstruksi model dari konsep kunci

4. Menyuruh siswa untuk mengungkapkan pemahaman mereka dengan menggunakan objek yang kongkrit

5. Memprediksikan dan membuktikan dampak atau hasil secara logis

6. Mempertajam pola dan hubungan dalam bermacam – macam penomena

7. Meminta siswa untuk memberikan alasan dari pernyataan dan pendapat dan pendapat mereka

8. Menyediakan berbagai kesempatan untuk melakukan pengamatan dan penyelidikan

9. Mendorong siswa untuk membangun maksud dan tujuan dari belajar mereka

10. menghubungkan konsep atau proses matematis dengan mata pelajaran lain dan juga dengan kehidupan nyata.

B. Saran

Dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, karena kita sebagai manusia biasa yang tidak pernah luput dari kesalahan, oleh karena itu penulis mengharapkan berbagai kritikan dan saran dari para pembaca yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Uno B. H. 2007. Mengelola kecerdasan dalam pembelajaran, Nurul Jannah, Gorontalo

Armstrong, Thomas. Setiap Anak Cerdas. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Umum, 2002

Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi. Yogyakarta: Hikayat.

1 komentar:

Horas mengatakan...

Mencapai kecerdasan disemua bidang, salah satunya dengan kecerdasan logis. Adalah harapan kita semua agar generasi muda bangsa suatu saat sejajar dengan bangsa2 maju. Tentu saja para guru adalah tulang punggung dan ada dibarisan terdepan untuk mewujudkannya.
Terimakasih Pak Panjaitan.